Wednesday, August 15, 2012

In 2012

Assalamu'alaikum wr. wb.

Terima kasih atas kedatangannya kepada:
Nidaul Hasanah,
Andre Aldrin,
Luluk Nuriyah,
Feisal Makarim,
Rizma Angga Puspita,
Ghivo Pratama, dan
Ratu Dini Nurasih.

Saya ucapkan selamat datang, bagi kalian semua, para undangan yang saya undang untuk membaca tulisan ini sebelumnya, semoga pada saat ini kalian semua sedang dalam keadaan baik. Tujuan saya mengundang kalian semua untuk membaca tulisan ini adalah untuk mengetahui perasaan dan sikap saya yang sebenarnya terkait dengan berbagai masalah yang menyebabkan hubungan kita semua saat ini renggang. Kalian perlu mengetahui bahwa saya adalah orang yang tidak pandai mengungkapkan apa yang dirasakan secara langsung dan menyeluruh sehingga bisa jadi apa yang kalian pernah dengar dari saya bukanlah apa yang ingin saya sampaikan secara total dan keseluruhan kepada kalian sehingga hal inilah yang sering menyebabkan adanya miskomunikasi di antara kita.

Apabila saya ditanya mengenai apa yang dirasakan oleh saya pada saat peristiwa yang saya tidak ingin ingat sebenarnya (ketika beberapa anak ULAS diasingkan di suatu meja untuk diajak berbicara oleh kak Nida dan kak Andre mengenai ULAS VS RC di perpustakaan pusat lantai ... setelah mengikuti briefing terkait RC dengan anak-anak RC lainnya) saya merasa jengkel dan sedih sekali pada saat itu. Saya tidak pernah menyangka situasinya akan menjadi buruk sekali dan menyeramkan pada saat itu. Saya kira perkumpulan kita pada saat itu akan menjadi suatu musyawarah yang baik-baik agar dapat mendapatkan solusi yang baik pula, tetapi kenyataannya berbeda, posisi saya pada saat itu (berdasarkan sudut pandang saya) adalah saya beserta anak-anak ULAS lainnya dimarahi akibat ketidakprofesionalan kami. Jujur, saya tidak membenarkan bahwa kami tidak profesional. Yang saya inginkan kondisinya pada saat itu adalah permasalahan yang ada di U-Camp jangan diberitahu terlebih dahulu, sebaiknya diagendakan terlebih dahulu kapan mau dibicarakan dan dicari jalan keluarnya bersama-sama sehingga tidak akan ada yang merasa sedih atau sakit hati.

Tetapi kenyataannya kak Feisal sudah memberitahu semua kondisi dan permasalahan yang sedang dihadapi selama U-Camp serta tanggapan anak-anak ULAS terkait ULAS dan Research Camp yang mana kondisinya pada saat itu jika diberitahu tanpa adanya konfirmasi mengenai kebenaran dan kejujuran tanggapan yang diungkapkan oleh masing-masing anak ULAS, tentunya akan membuat semua panitia RC apalagi kak Andre marah. Kondisinya pada saat itu adalah kami sedang berada dalam tekanan dan semua tanggapan kami terkait masalah itu berada di luar kontrol, tidak sedang serius, dan memang sedang bercanda. Kalau saya tahu dari awal bahwa setiap ucapan itu dalam organisasi dianggap serius, saya tidak akan memulai membicarakan hal yang akhirnya malah menjadi masalah yang sangat serius sekali sampai saat ini. Saya kira setiap orang dapat membedakan mana hal yang serius dengan yang tidak karena konteksnya dalam hal ini benar-benar berbeda. 

Niat saya datang briefing RC pada hari Sabtu itu, pada awalnya memang ingin mengetahui perkembangan dan  hal-hal apa saja yang sudah saya lewatkan terkait RC akibat beberapa hari kegiatan U-Camp itu. Jujur, walaupun pekerjaan yang saya kerjakan selama RC itu tidak jelas--ya, walaupun saya tahu di awal kepengurusan, saya menjabat sebagai wakil konsumsi, tetapi sampai pada saat itu saya tidak pernah mengurusi hal-hal yang berkaitan dengan konsumsi--meskipun begitu, saya mengerjakannya hal-hal yang tidak jelas itu dengan tulus dan senang hati, selama itu saya menganggap Research Camp adalah bagian dari kebahagiaan hidup saya, saya membayangkan jika kegiatan ini benar-benar bisa dilaksanakan, tentu saya akan sangat bahagia sekali karena dapat memiliki pengalaman yang setiap orang belum tentu bisa memilikinya, saya bangga sekali dapat terlibat dalam proyek besar itu yang seringkali jika saya menceritakannya kepada orang tua saya, mereka tampak agak tidak yakin kegiatan tersebut dapat terlaksana, namun dari tatapan mereka terlihat pula adanya dukungan agar putrinya dapat benar-benar terlibat untuk mewujudkannya sehingga saya bersedia membantu mengerjakan apapun agar RC dapat benar-benar dilaksanakan. 

Sampai akhirnya dikumpulkan untuk berdiskusi di situasi yang menyeramkan itu, cara kak Andre dan kak Nida menekan dan memojokkan anak-anak ULAS pada saat itu, membuat saya memahami bahwa saya telah dianggap sebagai pengkhianat RC. Baiklah, dalam pikiran saya, jika memang saya dianggap sebagai pengkhianat--berdasarkan ego pribadi--kalau begitu saya akan benar-benar menjadi pengkhianat. Lebih baik saya memilih ULAS dari pada RC, lebih baik saya memilih kegiatan yang nyaman ketika saya berada di dalamnya daripada saya memilih kegiatan yang hanya membuat saya tidak nyaman. Saya memahami, jika saya tetap memilih RC, kondisinya nanti akan menjadi berbeda, saya sudah tidak lagi dianggap sebagai bagian dari panitia RC yang sebenarnya, saya hanya akan dianggap sebagai panitia pengkhianat yang harus mempertanggung jawabkan pekerjaannya. Saya sudah putus dengan RC pada saat itu.  

Saya memberitahu keinginan saya untuk tidak mengikuti RC kepada orang tua saya, pada awalnya mereka menyerahkan semua keputusan kepada diri saya sendiri. Namun, pada akhirnya mereka mencoba membujuk saya untuk mengikuti RC karena mereka sangat mengetahui betapa saya sejak awal berusaha semaksimal mungkin untuk membantu mewujudkan RC. Saya adalah tipe anak yang penurut, bukan berarti saya orang yang tidak kritis yang tidak berani untuk mempertahankan argumennya, tetapi saya adalah orang yang sejak dulu percaya bahwa pilihan orang tua saya adalah yang terbaik untuk hidup saya, tidak ada yang tahu bahwa selama hidup saya ini sebagian besar adalah berdasarkan pilihan dari orang tua saya dan memang itulah yang terbaik untuk saya.
Akhirnya saya melakukan konfirmasi kepada panitia bahwa saya jadi ikut RC. Ada banyak sekali kekhawatiran dalam diri saya terkait dengan keputusan tersebut antara lain khawatir apabila selama sepuluh hari di sana saya tersiksa dengan ketidaknyamanan yang muncul akibat masalah ini, khawatir dengan bagaimana caranya saya bisa nyaman di sana, dan khawatir dengan kak Risma dan Ghivo yang tidak ikut RC yang tetap tinggal di Jakarta untuk mengerjakan proyek ulang ULAS.

Saya merasa berat meninggalkan mereka dan mohon maaf sekali kepada mereka karena tidak dapat ikut berpartisipasi dalam mengerjakan proyek tersebut.
 
Beberapa kekhawatiran saya tersebut benar terjadi, saya merasa tidak nyaman dan tidak bahagia sama sekali pada waktu itu. Namun, dapat mengobrol dengan beberapa ibu-ibu di Gunung Doh dan Banding, sharing dengan kader posyandu, berdiskusi dengan bidan, mendengarkan pengalaman seru dari dukun beranak, dan berbagi kebahagiaan dengan anak-anak SD sedikit dapat menghapus kesedihan saya dan dapat merasakan adanya kebahagiaan serta dapat melupakan permasalahan yang sedang dihadapi.
 
Hingga saat ini saya masih merasakan ketidaknyamanan tersebut. Saya merasa tidak nyaman dan kesal dengan semua permasalahan ini. Sebenarnya siapa yang salah? Seharusnya yang salah yang minta maaf dan memperbaiki ini semua.

Namun kemudian saya menyadari...

Betapa menyebalkannya saya! Saya adalah orang yang dimaksud oleh saya sendiri yang membuat kesalahan tersebut. Saya baru menyadari bahwa selama ini saya yang seharusnya meminta maaf kepada semua pihak yang telah tersakiti atas permasalahan ini.

Saya memang bodoh, baru menyadari itu semua setelah permasalahan ini sudah besar.

Sejak awal saya sudah salah. Terkait masalah yang muncul setelah anak-anak ULAS dikumpulkan di suatu meja dan diajak berbicara dengan kak Nida dan kak Andre pada saat itu ternyata karena adanya miskomunikasi dan mengenai sikap kak Nida dan kak Andre yang sangat marah pada saat itu berhubungan pula dengan kondisinya yang seharusnya kami memahami bahwa mereka sedang berada dalam tekanan akan sukses atau tidaknya RC nanti akibat adanya sejumlah hambatan yang mungkin muncul.

Ketika kak Nida berusaha membantu untuk memperbaiki hubungan saya dengan kak Andre, saya egois dan keras kepala sekali pada saat itu sehingga usahanya kak Nida tidak dapat berjalan dengan lancar. Begitu pula ketika kak Andre yang berusaha untuk memperbaiki hubungan dengan cara mengumpulkan kami (Saya, kak Risma, dan Ratu) di sekre, akibat keengganan saya tersebut pula yang mampu menggagalkan niat baik kak Andre. Sikap saya yang kekanak-kanakan tersebut tentulah juga merupakan salah satu hal yang menyebabkan kak Luluk cukup kesal dengan saya.

Kak Nida,
Maafkan saya karena telah menyia-nyiakan niat baik kak Nida, keegoisan dan kekeras-kepalaan saya memang merupakan suatu kekurangan dan kelemahan yang ada dalam diri saya. Saya tahu, kak Nida pasti kesal dengan sikap buruk saya. Saya memang salah, tetapi sungguh, tidak selayaknya saya bersikap demikian, saya khilaf.

Kak Andre,
Saya tahu kak Andre masih sangat kesal dengan saya. Untuk itu, saya meminta maaf yang sebesar-besarnya dari kak Andre. Maafkan segala sikap buruk saya yang tidak layak itu. Saya memang salah, saya memang patut dimarahi akibat semua kesalahan itu. Sepertinya saya adalah orang yang paling banyak membuat kak Andre kesal. Untuk itu, sekali lagi saya memohon maaf dengan sangat, semoga kak Andre berkenan untuk memaafkan saya yang menyebalkan ini.

Kak Luluk,
Saya meminta maaf kepada kak Luluk karena telah banyak mengecewakan kak Luluk. Saya mohon maaf, akibat sikap buruk saya ini pula menyebabkan kak luluk sebagai kadep penelitian ditimpa oleh masalah internal. Maafkan saya juga yang masih belum dapat membedakan kapan harus bersikap serius dan kapan diperbolehkan untuk tidak serius.

Kak Feisal,
Maafkan saya kak Feisal karena di awal saya sedikit kesal dengan sikap kak Feisal. Memang seperti itulah emosi saya pada saat itu. Namun, saya menyadari bahwa tindakan kak Feisal memang benar, memang seharusnya kak Feisal menceritakan apa adanya, hanya saja, saya yang waktu itu sedang berada di luar kontrol sehingga membicarakan hal-hal yang sekiranya disampaikan memang membuat kesal. Tapi benar, saya tidak sedang serius pada saat itu, saya sangat sadar jika kak Andre dan kak Luluk tahu, mereka akan sangat marah dan kesal.

Kak Risma,
Gara-gara saya, kak Andre, kak Luluk, kak Feisal, dan semua pihak yang mengetahui jadi memarahi dan kesal terhadap kak Risma. Maafkan saya kak Risma, saya tidak ada niat sama sekali untuk melibatkan kak Risma dalam masalah ini.

Ghivo,
Saya mohon maaf Ghivo, tidak seharusnya Ghivo terlibat dalam masalah ini, akibat perkataan saya yang di luar kontrol itu, Ghivo ikut dimarahi. Memang saya yang salah, mohon maaf Ghivo.

Ratu,
Saya juga minta maaf kepada Ratu, akibat keegoisan dan kekeras-kepalaan saya waktu di sekre itu, Kak Andre jadi ikut kesal dengan Ratu. Maafkan saya Ratu.

Saya mohon maaf sekali lagi kepada kak Nida, kak Andre, kak Luluk, kak Feisal, kak Risma, Ghivo, Ratu, dan semua pihak yang dirugikan akibat masalah ini. Sungguh, saya tidak ada niat untuk menyakiti perasaan kalian semua. Saya memang salah dan saya memang yang patut meminta maaf kepada kalian semua.

Saya juga mengucapkan terima kasih kepada kalian semua...

Terima kasih kak Nida atas kesediaannya memberikan pertolongan apabila saya ada masalah. Terima kasih atas semuanya yang sudah kak Nida berikan.

Terima kasih banyak kak Luluk atas segala pelajaran yang telah kak Luluk berikan. Terima kasih sudah mengajarkan saya tentang kebijaksanaan dalam berorganisasi, terima kasih sudah menjadi kakak yang saya hormati dan saya sayangi. Terima kasih banyak atas segala kesabaran kak Luluk menghadapi saya yang masih kekanak-kanakan ini.

Terima kasih juga kak Andre atas segala kebaikan kak Andre selama ini dan terima kasih sudah memberikan banyak pengetahuan baru. Selain itu saya juga berterima kasih atas segala bantuan yang sudah pernah kak Andre berikan. Saya ada pesan untuk kak Andre:


Terima kasih juga kepada kak Feisal, kak Risma, Ghivo, dan Ratu atas kerja sama dan kebersamaannya di ULAS. Semoga proyek sosial kita dapat berjalan dengan lancar.

Saya bukanlah orang yang sempurna. Itulah alasan saya menamai blog ini "NOBODY'S PERFECT". I have to understand that NOBODY'S PERFECT. I am not perfect. You are not Perfect. He is not perfect. She is not perfect. So, don't get angry to somebody because WE ARE NOT PERFECT.

Karena ketidaksempurnaan itu pulalah yang menjadikan saya begitu mudahnya kehilangan pertemanan ini. Betapa bodohnya saya menghilangkan pertemanan ini begitu saja dan melupakan begitu saja betapa berharganya jalinan pertemanan ini.

Saya mengakui, ada begitu banyak kenangan pertemanan bersama kalian yang mana merupakan kenangan yang terbaik dalam hidup saya. Saya tidak pernah menyangka akan kehilangan pertemanan ini dengan begitu mudahnya.

Jika boleh saya menganalogikan pertemanan ini sebagai suatu barang kesayangan bagi saya. Maka ketika barang  kesayangan itu hilang, meskipun saya dapat menggantikannya dengan yang baru, namun barang yang baru itu tidak akan pernah dapat menggantikan kenangan saya dengan barang kesayangan saya yang lama. Begitu juga pertemanan ini, ketika pertemanan ini hilang, meskipun seandainya dapat diperbaiki hubungannya, saya memahami, kita masing-masing telah menjadi orang-orang yang baru, yang saya tidak yakin kita dapat kembali pada masa-masa pertemanan yang dulu itu. Maaf atas segala kekacauan yang telah saya perbuat. Hanya kata "Iya, saya maafkan" yang tulus dari hati kalian masing-masing, yang saya harapkan dari kalian.

Akhir kata,
Wassalamu'alaikum wr. wb.
Posted on by Nurul Fajry Maulida | No comments

0 comments:

Post a Comment

If you want to be notified that I've answered your comment, please leave your email address. Your comment will be moderated, it will appear after being approved. Thanks.
(Jika Anda ingin diberitahu bahwa saya telah menjawab komentar Anda, tolong berikan alamat email Anda. Komentar anda akan dimoderasi, akan muncul setelah disetujui. Terima kasih.)