Sunday, September 8, 2013

Catatan OGSO #1

Pada awal bulan September ini, saya pertama kali mendapatkan kuliah OGSO (Obat Gangguan Saraf dan Otot). Di awal perkuliahan, ibunya mengingatkan kami terlebih dahulu terkait hal-hal yang berkaitan dengan sistem persarafan. Kami harus memahami hal tersebut dulu sebelum bisa memahami segala hal terkait dengan gangguannya. Yang paling penting terkait ini adalah mampu memahami struktur dari sistem saraf, bagian-bagiannya maksudnya disertai dengan fungsinya. Jadi kalau sudah mengetahui dengan baik fungsinya, kalau terjadi gangguan pada salah satu bagiannya maka hal tersebut tentunya akan mengganggu berfungsinya bagian tersebut.

Berikut saya akan menjelaskan secara sederhana beberapa hal terkait dengan sistem persarafan dikaitkan dengan struktur beserta fungsinya yang dirujuk dari berbagai sumber internet maupun buku. Jadi, harap tidak dijadikan referensi, hanya untuk meningkatkan pemahaman saja.

Pada pokoknya, sistem persarafan terdiri atas 2 hal penting, yaitu sistem saraf pusat dan sistem saraf tepi (perifer).

Struktur sistem saraf pusat terdiri menjadi 2, yaitu otak dan sumsum tulang belakang (medula spinalis atau spinal cord


Berdasarkan bagiannya, otak terdiri menjadi 3, yaitu otak bagian depan, otak bagian tengah, dan otak bagian belakang. Otak depan terdiri dari otak besar dan diensefalon. Otak besar disebut juga telensefalon atau serebrum (saya sendiri kurang mengerti alasan kenapa bukannya otak hanya terbagi menjadi 2 bagian besar yaitu otak besar dan otak kecil yang mana di sini saya menemukan bahwa otak itu telah terbagi-bagi di samping otak besar dan otak kecil salah satunya adalah diensefalon).

Berbicara terkait serebrum, dengan jelas apabila melihat secara fisik terbagi menjadi 2 area terpisah yang disebut dengan hemisfer sehingga bagian-bagiannya disebut dengan hemisfer kiri dan hemisfer kanan. Keduanya memiliki fungsi yang berbeda, hemisfer kanan mempengaruhi atau mempersarafi bagian-bagian tubuh di sebelah kiri, dan sebaliknya hemisfer kiri mempersarafi bagian-bagian tubuh sebelah kanan.

Masih terkait serebrum, selain terbagi menjadi hemisfer, berdasarkan area fungsionalnya, serebrum terbagi menjadi 4 area, yaitu area frontalis, parietalis, temporalis, dan oksipitalis. Tentunya keempat area tersebut memiliki fungsi yang berbeda. Area atau disebut juga dengan lobus frontalis memiliki fungsi sebagai pusat berpikir, lobus temporalis sebagai pusat pendengaran dan berbahasa, lobus parietalis sebagai pusat sentuhan dan gerakan, sementara lobus oksipitalis sebagai pusat penglihatan.

Lalu diensefalon. Diensefalon merupakan bagian otak yang berada di depan otak tengah. Diensefalon terdiri dari talamus dan hipotalamus. Talamus berfungsi sebagai pengatur suhu dan kandungan air dalam darah, selain itu juga berfungsi mengkoordinasi aktivitas terkait emosi. Sementara hipotalamus berfungsi untuk mengatur suhu tubuh, selera makan, tingkah laku, dan mengontrol kelenjar hipofisis.

Kemudian untuk otak tengah, tidak banyak yang dibicarakan terkait ini, perlu diketahui bahwa pada bagian dalamnya berisi cairan serebrospinal, sementara bagian bawahnya merupakan penghubung sinyal penglihatan dan pendengaran.

Otak belakang, terdiri dari otak kecil (serebelum), pons varolli, dan medula oblongata. Otak kecil berfungsi untuk mengatur sikap atau posisi tubuh, keseimbangan, dan koordinasi gerakan otot yang terjadi secara sadar. Pons varolli merupakan bagian dari otak belakang yang merupakan kerubung bagian atas batang otak. Sementara medula oblongata merupaka bagian dari otak belakang yang berada di bagian pangkal batang otak. Pons varolli atau disebut juga dengan jembatan varol berfungsi sebagai penghubung serabut saraf atnara otak kecil bagian kiri dan kanan, serta penghubung serabut saraf otak besar dengan sumsum tulang belakang. Sementara medula oblongata berfungsi sebagai pusat pengaturan ritme respirasi, denyut jantung, penyempitan dan pelebaran pembuluh darah, tekanan darah, gerakan alat pencernaan, menelan, batuk, bersin, dan sendawa.

Terkait otak secara sederhana sudah dijelaskan, selanjutnya terkait sumsum tulang belakang. Sumsum tulang belakang atau medula spinalis berfungsi untuk menyampaikan impuls sensorik dari sistem saraf perifer menuju otak, menyampaikan impuls motorik dari otak ke berbagai efektor, dan sebagai pusat gerak refleks.

Sistem saraf merupakan sistem pengontrol, utamanya untuk sistem kardiovaskuler dan pernafasan. Tubuh berusaha untuk memperhatankan homeostatis dalam tubuh dengan cara sistem saraf bekerja sama dengan sistem endokrin. Perlu diketahui bahwa dalam menjaga homeostatis, sistem saraf bekerja lebih dulu dibandingkan dengan sistem endokrin. Hal ini juga terkait dengan yang menyebutkan bahwa sistem saraf bekerja lebih cepat dibandingkan dengan sistem endokrin yang kerjanya lambat.

Sistem saraf dapat bekerja dengan cepat, karena respon yang akan disampaikan tertransmisi atau terkomunikasikan dengan tepat sasaran. Misalnya, ketika akan ada hal yang perlu disampaikan, maka akan dikeluarkan zat transmisi berupa neurotransmitter yang kemudian dilepas oleh ujung akson, lalu ditangkap oleh dendrit atau langsung ke bagian efektor. Sementara pada sistem endokrin, bekerja lebih lambat karena zat transmisinya yang berupa hormon, dikeluarkan ke dalam darah, dan baru akan bekerja apabila mengenai site active-nya, jika tidak maka tidak ada respon sama sekali.

Contoh lainnya terkait hal tersebut misalnya, pada sistem saraf, bekerja lebih cepat karena ada juga yang disebut dengan refleks baroreseptor, sehingga ketika tubuh butuh untuk meningkatkan tekanan darahnya, maka saraf akan bekerja langsung dengan memerintahkan otot untuk meningkatkan kekuatannya sehingga dengan demikian dapat meningkatkan tekanan darahnya. Sementara dalam upaya untuk meningkatkan tekanan darah oleh sistem endokrin, hormon yang dikeluarkan  kemudian perlu untuk mengeluarkan renin, lalu renin mengalami transformasi dulu sedemikian rupa sehingga kemudian perlu juga adanya perubahan dari angiotensin I menjadi angiotensin II, dan seterusnya, sehingga dengan demikian pula respon yang diberikan menjadi lebih lambat akibat adanya proses yang tidak langsung melainkan secara tidak langsung melalui proses-proses transformasi tersebut.

Terkait dengan gangguan pada sistem saraf, salah satunya bisa mempengaruhi kesadaran. Kesadaran dapat dipengaruhi apabila terjadi gangguan pada bagian diensefalon, otak tengah, pons varolli, dan medula oblongata.

Apabila terjadi gangguan pada diensefalon, yang terjadi pada tubuh adalah merasa lesu dan lemah. Kemudian apabila gangguan telah menurun sampai otak tengah, yang terjadi adalah tubuh akan mengalami fase pingsan. Kalau berlanjut ke bagian pons varolli dan medula oblongata maka pasien akan mengalami koma. Koma merupakan suatu keadaan yang memisahkan antara sadar dengan kematian. Biasanya apabila pasien sudah sampai pada fase koma, maka kehidupannya hanya bergantung pada alat-alat saja, secara medis, pasien telah meninggal dunia, karena apabila alat tersebut dilepas, maka tidak akan ada aktivitas pernafasan dan jantung (karena yang telah mengalami gangguan pada medulla oblongata yang telah diketahui sebelumnya berfungsi sebagai pusat yang salah satunya mengatur pernafasan dan denyut jantung).

Bagian dari otak yang mempengaruhi kesadaran tersebut dapat terganggu salah satunya akibat kondisi hipoksia. Jelas kekurangan oksigen dapat mengganggu aktivitas bagian otak tersebut, karena otak memerlukan oksigen untuk mendapat energinya agar dapat bekerja, tanpa oksigen, otak tidak mampu bekerja sehingga mengalami gangguan.

Lebih dalam lagi, kita tahu bahwa sistem saraf dapat bekerja akibat sel-sel sarafnya bekerja. Apabila yang terjadi gangguan pada sel sarafnya tersebut adalah bagian badan selnya, maka tidak akan terjadi pengolahan, sementara apabila yang terjadi gangguannya adalah di bagian aksonnya maka yang terjadi adalah transmisi tidak dapat berjalan.

Selain dapat mengalami gangguan kesadaran, apabila salah satu bagian dari sistem saraf terganggu, salah satunya juga dapat mempengaruhi gerakan refleks. Misalnya, apabila tidak terjadi gangguan, ketika tangan terkena api yang panas, maka akan secara otomatis tangan menghindari api tersebut. Namun jika seseorang ketika mengalami hal tersebut tetapi tidak ada respon refleks sama sekali, maka telah terjadi gangguan pada saraf motoriknya. Kita tahu bahwa saraf motorik merupakan bagian dari sistem saraf perifer. Gangguan terkait ini juga bisa diakibatkan karena adanya gangguan pada sistem saraf pusat, hal ini terkait dengan pengolahan informasinya, sementara apabila terjadi gangguan pada sistem saraf perifernya maka yang terganggu adalah proses transmisinya. 

Gangguan yang mengenai sistem saraf perifer bagian motoriknya, salah satu contohnya yang dapat terjadi selain refleks tidak bekerja adalah hiperkinesia, paresis, dan paralisis. Hiperkinesia merupakan gerakan otot yang meningkat, ada juga yang disebut dengan hipokinesia yang artinya sebaliknya yaitu terjadi penurunan pada gerakan otot. Lalu paresis merupakan gangguan yang menyebabkan tetap adanya gerakan tapi bersifat lemah, sementara paralisis, tidak ada gerakan sama sekali atau lumpuh. 

Terkait dengan adanya gangguan pada saraf motorik, apabila yang terganggu adalah sistem saraf pusatnya maka tubuh dapat membentuk  bentuk yang spesifik yaitu flexor posturing, ada kekakuan pada kaki dan tangannya. Mengalami gangguan pada sistem saraf pusatnya, bisa jadi telah terjadi kerusakan saat pertumbuhan janin, tetapi ada pula yang terjadi akibat penyakit, contohnya demam tinggi, kejang-kejang, dan panas terlalu tinggi. Telah diketahui juga bahwa pusat pengatur suhu terdapat di hipotalamus, pada kejadian panas yang terlalu tinggi, hipotalamus tidak dapat mengantisipasi kondisi tersebut, kemudian panasnya bisa merusak sel-sel saraf dan mempengaruhi organ yang dipersarafinya, dan apabila yang terganggu adalah otak serebral maka bisa mengakibatkan terjadinya flexor tersebut.

Selain demam tinggi, yang dapat mengganggu otak serebral contohnya adalah imunisasi. Kita juga mengetahui bahwa imunisasi hanya diperuntukkan untuk anak-anak dalam kondisi sehat. Apabila anak-anak sedang sakit kemudian melakukan imunisasi dan kita juga tahu bahwa imunisasi menggunakan virus yang dilemahkan, lalu dengan kondisinya yang sedang sakit tersebut justru virus dapat menyerang balik dan salah satunya juga dapat mengganggu otak serebral.
Akibat lainnya yang dapat terjadi apabila sistem saraf mengalami gangguan adalah dispasia, agnosia, kematian serebral, kematian otak, dan demensia.

Dispasia merupakan gangguan pada sistem saraf yang menyebabkan terganggunya pusat bicara dan pemahaman bahasa. Terkait pemahaman yang terganggu adalah lobus frontalisnya. Dispasia bisa terjadi akibat terkena stroke, trauma, dan infeksi, ketiganya sama-sama menyebabkan kondisi hipoksia. Terkait stroke, sudah sering kita melihat penderitanya juga mengalami gangguan bicara. Sementara trauma, dapat mengakibatkan dispasia, karena ketika terjadi trauma maka terjadi benturan lalu inflamasi. Pembengkakan tersebut menyebabkan penghambatan oksigen dapat mencapai sistem saraf tersebut. Kemudian, infeksi juga dapat menyebabkan dispasia, karena infeksi juga dapat menyebabkan inflamasi yang memutus suplai oksigen. 

Agnosia merupakan gangguan pada sistem saraf yang menyebabkan penderitanya tidak mampu mengenali objek, misalnya saja ketika di hadapannya adalah suatu kunci, dia tidak mengenali benda itu bahwa yang di depannya itu adalah kunci. Agnosia bisa terjadi secara visual maupun secara auditori. Agnosia secara visual sudah dijelaskan pada contoh yang sebelumnya, sementara agnosia secara auditori terjadi ketika misalnya si penderita diperdengarkan suara kodok maka penderita tersebut tidak mengenali bahwa yang diperdengarkan tersebut adalah suara kodok. Selain visual dan auditori, ada juga agnosia yang terjadi akibat dengan sentuhan, perasa, dan penciumannya juga tidak mampu mengenali objek. Kesemuanya terjadi akibat saraf sensorik mengalami gangguan baik di bagian lobus temporalis untuk audiotori, oksipitalis untuk visual, sementara sentuhan, penciuman, dan perasa di bagian lobus parietalis. Dan kesemuanya itu juga tidak lepas akibat adanya gangguan pada bagian frontalis yang berfungsi sebagai bagian memori.

Kematian serebral--apabila berbicara terkait serebral maka bagian yang dimaksud adalah bagian luarnya bukan otak secara keseluruhannya--dapat membahayakan tubuh karena seperti yang diketahui bahwa hanya sel saraf yang tidak memiliki kemampuan beregenerasi. Terkait hal ini, perlu adanya kehati-hatian dalam mendidik anak. Kita tahu bahwa masa pertumbuhan anak di golden age-nya adalah pada usianya yang ke-7 tahun. Selama perkembangannya itu, sistem sarafnya rentan mengalami kematian serebral, misalnya saja apabila seorang anak dimarahi dengan keras, anak diberi penampilan gambar warna yang mencolok dengan kontras, anak diperdengarkan musik-musik keras, dan sebagainya.

Apabila yang mengalami adalah otak secara keseluruhan maka sudah bisa diketahui bahwa telah ada perubahan dari kehidupan menuju kematian.

Masih terkait gangguan sistem saraf lainnya yaitu demensia. Demensia merupakan penyakit yang sangat dikhawatirkan oleh orang-orang tua yaitu terjadinya kehilangan memori secara progresif, misalnya saja sampai-sampai tidak mengenali keluarganya, rumahnya, dan sebagainya. Demensia juga dapat terjadi pada usia muda, hal ini dapat terjadi akibat paparan polusi. Untuk penderita yang mengalami demensia, kehidupannya sudah bergantung dengan keluarganya apabila keluarganya merawatnya dengan baik.

Gangguan pada sistem saraf lainnya antara lain hipertensi intrakranial yaitu terdapat tekanan yang tinggi di dalam otak. Tekanan ini bisa terjadi akibat meningkatnya salah satu volume dari darah, cairan serebrospinal, atau tumor. Terjadinya peningkatan tekanan pada intrakranial ini tidak baik, karena pada keadaan normalnya seharusnya tekanan intrakranial lebih rendah dibandingkana dengan tekanan arteri agar oksigen dapat masuk ke dalam sel-sel saraf. Akibatnya apabila terjadi peningkatan pada tekanan intrakranial melebihi tekanan arteri maka sel-sel saraf akan mengalami kekurangan oksigen, akan ada banyak karbon dioksida di dalam darah yang kemudian terkait homeostatis, tubuh memerintahkan untuk meningkatkan ventilasi agar dapat bernafas lebih banyak dan ada banyak oksigen yang masuk. 

Contoh lainnya respon dari tubuh apabila sel-sel saraf pada otak mengalami kekurangan oksigen, ketika terlalu lama belajar, banyak oksigen yang digunakan untuk berpikir, lama-kelamaan otak akan mengalami kekurangan oksigen, sehingga tubuh merespon dengan cara menguap agar bisa mendapatkan oksigen dengan volume yang lebih banyak. Begitu pula yang terjadi apabila makan terlalu berlebihan, oksigen akan lebih banyak digunakan untuk mencerna makanan, sehingga otak kekurangan oksigen, lalu berupaya memenuhi kebutuhannya dengan cara menguap.

Kejang, juga merupakan salah satu bentuk akibat terganggunya sistem saraf. Kejang terjadi akibat adanya aktivitas yang berlebihan dari sistem saraf. Aktivitas yang berlebihan tersebut terjadi akibat banyaknya sel saraf yang tereksitasi. Terkait eksitasi ini, kita tahu bahwa sel sensitif sekali atau mudah sekali mengalami depolarisasi, sehingga kita baru saja mengalami depolarisasi lalu berusaha ke tahap repolarisasi, ketika terjadi rangsangan berikutnya maka akan kembali terdepolarisasi. Depolarisasi terjadi akibat banyaknya natrium yang masuk ke dalam sel. Oleh karena itu, untuk mencegah terlalu banyaknya sel yang tereksitasi, untuk penderita kejang diberikan obat natrium bloker. Sebenarnya terkait kejang ada banyak penyebabnya, 70% belum teridentifikasi sehingga penanganan yang benar terkait kejang adalah dengan melihat penyebabnya.

Spinal atau saraf-saraf pada korda spinalis (tulang belakang) juga dapat mengalami gangguan, misalnya saja cedera. Cedera yang terjadi pada saraf tertentu akan berakibat pada adanya gangguan pada organ atau efektor yang dipersarafinya, jadi gangguan yang terjadi akan berbeda-beda tergantung saraf mana yang cedera.

Parkinson disease, juga merupakan salah satu gangguan pada sistem saraf. Parkinson terjadi akibat adanya degenerasi pada pelepasan dopamin (neurotransmitter). Akibatnya akan terjadi pergerakan yang melambat dan wajahnya juga terlihat tanpa ekspresi. 

Demikian yang dapat saya sampaikan. Mohon maaf apabila terdapat kesalahan. Komentar dan kritik dipersilakan. Semoga bermanfaat :)

0 comments:

Post a Comment

If you want to be notified that I've answered your comment, please leave your email address. Your comment will be moderated, it will appear after being approved. Thanks.
(Jika Anda ingin diberitahu bahwa saya telah menjawab komentar Anda, tolong berikan alamat email Anda. Komentar anda akan dimoderasi, akan muncul setelah disetujui. Terima kasih.)