Wednesday, October 14, 2015

Catatan Analisis Farmasi #5

[Sumber Gambar: uwartsci.wordpress.com]

Kali ini dibahas mengenai tugas ketiga, yaitu mengenai spesifikasi rotasi jenis dan uji cemaran sejenis bahan baku Linestrenol serta tiga bahan baku lainnya yang memiliki spesifikasi sama. Tiga bahan baku lainnya antara lain Ofloksasin, Captopril, dan Morfin HCl.

Rotasi jenis diperoleh melalui suatu rumus yang membutuhkan besarnya rotasi optik. Berdasarkan Farmakope Indonesia Edisi IV, rotasi optik merupakan rotasi sudut atau derajat rotasi jenis yang dihitung dibandingkan dengan kadar 1 gram zat terlarut dalam 1 ml larutan diukur pada kondisi yang telah ditentukan. Adanya rotasi optik menyebabkan senyawa dapat mengakibatkan cahaya terpolarisasi pada bidang tertentu. Rotasi optik ada dua, yaitu (+) yang memutar bidang cahaya searah dengan arah jarum jam atau ke kanan dan (-) yang memutar berlawanan dengan arah jarum jam atau ke kiri. Rotasi optik diukur dengan alat polarimeter. 

Prosedur penetapan rotasi jenis dibagi berdasarkan wujud dari senyawanya, yaitu:
  1. Jika senyawa berupa cairan, senywa yang akan ditetapkan diatur suhunya hingga 25 derajat selsius dan kemudian dipindahkan ke dalam tabung polarimeter. Kemudian lakukan pembacaan paling sedikit lima kali dan lakukan penetapan blanko dengan tabung kosong kering.
  2. Jika senyawa berupa zat padat, penetapan dilakukan dengan menimbang saksama sejumlah tertentu zat lalu dimasukkan ke dalam labu ukur dengan menggunakan air atau pelarut lain yang ditentukan. Pelarut yang digunakan disisakan sebagai pelarut untuk penetapan blanko. Tambahkan pelarut sampai meniskus sedikit di bawah tanda batas dan atur suhu isi labu hingga 25 derajat selsius dengan mencelupkan labu dalam tangas dengan suhu tetap. Kemudian, tambahkan pelarut hingga batas dan campurkan. Setelah itu, larutan dipindahkan ke dalam tabung polarimeter tidak lebih dari 30 menit sejak dilarutkan dan lakukan penetapan rotasi jenis paling sedikit sebanyak lima kali. Pada saat penetapan suhu selalu dijaga berada pada 25 derajat selsius.
Setelah itu rotasi ditetapkan menggunakan rumus dan tanda rotasi yang diamati baik positif atau negatif harus dipakai. Rumus penetapan rotasi jenis adalah sebagai berikut:


Keterangan:

a = pengamatan rotasi yang terkoreksi dalam derajat pada suhu t dan pada panjang gelombang x.
l = panjang tabung polarimeter (dm)
d = bobot jenis cairan atau larutan pada suhu pengamatan.
p = kadar larutan dinyatakan sebagai jumlah gram zat dalam 100 gram larutan (gram/100 gram)
c = kadar larutan dinyatakan sebagai jumlah gram zat dalam 100 ml larutan (gram/100 ml)


Linestrenol mengandung tidak kruang dari 97,0% dan tidak lebih dari 102,0% dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan. Linestrenol memiliki rotasi jenis -8 derajat sampai -12 derajat, dilakukan penetapan menggunakan larutan 5% dalam dioksan P. Prosedur penetapannya adalah dengan menimbang seksama sejumlah tertentu, dimasukkan ke dalam labu tentukur dengan menggunakan larutan 5% dalam dioksan P, sisakan sebagian pelarut untuk penetapan blanko. 


Ofloksasin mengandung tidak kurang dari 98,5% dan tidak lebih dari 101,5% dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan. Ofloksasin memiliki rotasi jenis antara +1 dan -1. Prosedur penetapannya antara lain:

  1. Timbang 10 mg zat, dimasukkan ke dalam labu tentukur dan larutkan dalam tiap ml kloroform,
  2. Tambahkan pelarut secukupnya hingga meniskus pelarut sedikit di bawah tanda,
  3. Atur suhu isi labu hingga 25 derajat selsius.
  4. Tambah pelarut hingga batas dan campur.
  5. Pindahkan larutan ke dalam tabung polarimeter tidak lebih dari 30 menit sejak zat dilarutkan.
  6. Pertahankan suhu agar tetap 20 derajat selama pengujian.


Captopril mengandung tidak kurang dari 97,5% dan tidak lebih dari 102,0% dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan. Captopril memiliki rotasi jenis tidak kurang dari -125 derajat dan tidak lebih dari -134 derajat, dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan, lalukan penetapan menggunakan larutan etanol mutlak P yang mengandung 10 mg per ml. Prosedur penetapan sama seperti pada Ofloksasin, diperlukan larutan uji dengan konsentrasi 1000 ppm yaitu dibutuhkan sebanyak 1000 mg dan dilarutkan dengan etanol mutlak p sampai 100 ml. Sama prosedurnya, kemudian dicatat hasil pengamatannya. 


Morfin HCl mengandung tidak kurang dari 98,0% dan tidak lebih dari 101,0% dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan. Morfin HCl memiliki rotasi jenis -110 derajat sampai -115 derajat dan dilakukan penetapan menggunakan larutan 2%. Prosedurnya juga sama yaitu dengan membuat larutan uji dengan konsentrasi 2%, yaitu sebanyak 1 gram sampel dilarutkan dengan air sampai 50 ml. 

Sementara mengenai uji cemaran sejenis. Cemaran sejenis merupakan cemaran senyawa organik yang keberadaannya perlu diuji untuk menjamin keamanan senyawa uji. Umumnya pengujian cemaran senyawa sejenis dilakukan dengan sistem kromatografi seperti KLT, KCKT, atau KG. Masin-masing senyawa uji harus memenuhi syarat batas penerimaan yang dicantumkan pada standar acuan. 

Penetapan uji cemaran senyawa sejenis Linestrenol menggunakan KLT dengan persyaratan bercak lain selain bercak utama dari Larutan 1 tidak lebih intesif dari bercak larutan 2 dan tidak lebih dari satu bercak yang lebih intensif dari larutan 3. Fase gerak yang digunakan berupa campuran n-Heptan P-aseton P (80:20). 
  1. Larutan 1 berisi sejumlah zat yang dilarutkan dalam kloroform P hingga kadar 2%.
  2. Larutan 2 berisi sejumlah zat yang dilarutkan dalam kloroform P hingga kadar 0,02%.
  3. Larutan 3 berisi sejumlah zat yang dilarutkan dalam kloroform P hingga kadar 0,01%. 
Kemudian digunakan asam fosfomolibdat P 5% sebagai penyemprot bercak.  

Penetapan uji cemaran senyawa sejenis Ofloksasin menggunakan KCKT dengan persyaratan masing-masing cemaran tidak lebih dari 0,3% dan jumlah cemaran tidak lebih dari 0,5%. Digunakan pengencer berupa campuran air-asetonitril P (6:1) dan fase gerak berupa Amonium Asetat P, Natrium Perklorat P, Air, Asam Fosfat P, dan Asetonitril P. Sistem kromatografi berupa detektor 294 nm, kolom 4,6 mm x 150 mm berisi bahan pengisi LI, suhu 45 derajat dan lajut alir 0,05 ml per menit. 

Kemudian dilakukan kromatografi terhadap larutan kesesuaian sistem, rekam kromatogram dan ukur respon puncak seperti tertera pada Prosedur: Resolusi, R, antara Ofloksasin dan senyawa sejenis A Ofloksasin tidak kurang dari 2,0 dan simpangan baku relatif pada penyuntikkan ulang tidak lebih dari 3,0%. Prosedurnya antara lain:
  1. Pembuatan fase gerak. Larutkan 4 gram Amonium Asetat P dan 7 gram Natrium Perklorat P dengan 1300 ml air, atur pH hingga 2,2 dengan penambahan Asam Fosfat P dan tambahkan dengan 240 ml Asetonitril P, saring dan awaudarakan. Jika perlu dilakukan penyesuaian menurut Kesesuaian sistem seperti tertera pada Kromatografi <931>. Larutan kesesuaian sistem dilakukan dengan menimbang masing-masing lebih kurang 10 mg Ofloksasin BPFI dan senyawa sejenis A Ofloksasin BPFI, dimasukkan ke dalam labu tentukur 100 ml, dilarutkan dan diencerkan dengan Pengencer sampai tanda. Pipit 10 ml larutan ini ke dalam labu tentukur 50 ml, encerkan dengan pengencer sampai tanda. Pipet 1 ml larutan ini ke dalam labu 50 ml yang kedua, encerkan dengan pengencer sampai tanda.
  2. Pembuatan larutan baku. Timbang saksama sejumlah Ofloksasin BPFI, larutkan dan encerkan dengan pengencer secara kuantitatif hingga kadar lebih kurang 0,4 mikrogram per ml.
  3. Pembuatan larutan uji dilakukan dengan melarutkan sejumlah zat dalam pengencer hingga kadar lebih kurang 0,2 mg per ml.
  4. Pengujian dilakukan dengan menyuntikkan secara terpisah sejumlah volume sama (lebih kurang 10 mikroliter) larutan baku dan larutan uji ke dalam kromatograf, rekam kromatogram hingga 2,5 kali waktu retensi puncak Ofloksasin dan ukur respon dari semua puncak setelah puncak pelarut. Hitung persentase masing-masing cemaran dengan respon puncak yang lebih besar dari 0,1 respon puncak rata-rata Ofloksasin BPFI dari Larutan baku dengan rumus:

Keterangan: 
C = kadar Ofloksasin BPFI (mg/ml)
Cu = kadar Ofloksasin dalam Larutan uji (mg/ml)
ri = respon puncak masing-masing cemaran
rs = respon puncak larutan baku

Penetapan uji cemaran senyawa sejenis Captopril menggunakan metode KG, persyaratannya tidak lebih dari 0,1% cemaran (Asam-3-merkapto-2-metilpropanoat. Menggunakan pereaksi siliasi tert-butildimetil klorosilan dan N-metil-N-tert-butildimetil silitrifluoroasetamida. Larutan baku internal berupa asam 3-merkaptopropanoat dan metilen klorida P. Larutan baku garam dari asam 3-merkapto-2-metilpropanoat dan 1,2-Difeniletilamin BPFI dan metilen klorida P.

Sistem kromatografi berupa kolom silika dengan panjang 15 mm dan diameter 0,32 mm. Fase diam G 27 ketebalan 1 mikrometer, gas pembawa helium, laju alir 1,7 ml/menit, rasio pemisahan 25:1, suhu kolom 125 derajat selsius (dinaikkan suhu per 30 menit hingga 300 derajat), port injeksi 250 derajat, dan detektor 310 derajat selsius, deteksinya berupa ionisasi nyala, volume injeksi 1 mikroliter. Perhitungannya dengan menghitung persentase asam 3-merkapto-2-metilpropanoat dalam katopril dengan rumus: 


120,17 adalah BM asam 3-merkapto-2-metilpropanoat dan 317,45 adalah BM MMPA. C adalah kadar garam dari asam 3-merkapto-2-metilpropanoat dan 1,2 Difeniletilamin dalam BPFI dalam mg/ml larutan baku, W adalah bonot Captopril dalam mg, RS dan RU adalah perbandingan luas puncak asam 3-merkapto-2-metilpropanoat dan baku internal dalam larutan uji dan larutan baku. Berikut adalah prosedur pembuatan larutannya:
  1. Pembuatan pereaksi siliasi yaitu dengan membuat larutan tert-butildimetil klorosilan dan N-metil-N-tert-butildimetil sililtrifluoroasetamida (1 dalam 100).
  2. Pembuatan larutan baku internal yaitu dengan memasukkan lebih kurang 0,4 ml asam 3-merkaptopropanoat ke dalam labu tentukur 10 ml, encerkan dengan metilen klorida P sampai tanda.
  3. Pembuatan larutan baku yaitu dengan menimbang sejumlah garam dari asam 3-merkapto-2-metilpropanoat dan 1,2 Difeniletilamin BPFI, dilarutkan dalam metilen klorida dan encerkan dengan metilen klorida hingga kadar lebih kurang 12 mg/ml (larutan ini stabil dalam 5 jam).
Pengujiannya dilakukan dengan cara:
  1. Pada dua tabung vial yang bertutup ulir dimasukkan masing-masing 0,5 ml metilen klorida.
  2. Tambahkan 25,0 mikroliter larutan baku pada salah satu tabung. Masukkan kurang 100 mg Captopril apda tabung kedua dan campur.
  3. Tambahkan 15,0 mikroliter larutan baku internal dan 0,4 pereaksi siliasi pada tiap tabung, tutup rapat tabung dengan penutup ulir dan campur hati-hati dengan pengocok korteks. 
  4. Letakkan tabung pada lempeng pemanas pada suhu 60 derajat selama 30 menit, angkat, dan biarkan dingin.
  5. Suntikkan 1 mikro liter larutan baku ke dalam kromatograf dan rekam luas puncak dari larutan baku internal dan garam dari asam-3-merkapto-2-metilpropanoat dan 1,2-difenil-etilamin (MMPA).
  6. Perbandingan simpangan baku relatif luas puncak MMPA dan luas puncak larutan baku internal pada penyuntikkan ulang tidak lebih dari 2,0%. Waktu retensi relatif derivat silil dari larutan baku internal dan derivat silil dari MPA berturut-turut lebih kurang 0,85 dan 1,0. Dengan cara yang sama suntikkan sejulmah volume 1,0 mikroliter larutan uji.
Penetapan uji cemaran senyawa sejenis pada Morfin HCl menggunakan KLT. Diperlukan lempeng silika gel, fase gerak berupa campuran etanol 70%P-Toluen P-Aseton P-Amonium Hidroksida P (35:35:32,5:2,5), pereaksi semprot berupa (Kalium Iodobismutat Asetat LP dan Hidrogen Peroksida LP), serta kodein Fosfat. Prosedurnya adalah sebagai berikut:
  1. Dibuat fase geraknya.
  2. Dibuat larutan (1) dengan melarutkan 100 gram zat dalam campuran etanol p-air (1:1) dan cukupkan volume hingga 10 ml.
  3. Buat larutan (2) dengan 50 mg kodein fosfat P dalam 5 ml larutan 1. Encerkan 0,1 ml dengan etnol P-air (1:1) hingga 10 ml.
  4. Totolkan secara terpisah 10 mikroliter larutan 1 dan 2.
  5. Elusi.
  6. Angkat lempeng, keringkan, semprot hingga diperoleh bercak. Bercak kodein berwarna abu-abu kebiruan, dan bercak morfin berwarna merah muda. 
  7. Pada kromatogram larutan 1 bercak yang setara dengan kodein tidak lebih intensif dari bercak kodein pada larutan 2, dan bercak sekunder tidak lebih intensif dari bercak morfin yang dihasilkan dari larutan 2.
  8. Uji memenuhi syarat apabila kromatogram larutan 2 menunjukkan bercak kodein terpisah dari bercak utama. 
Selanjutnya adalah penjelasan dan komentar dari dosen.

"Apa arti penting dari pengukuran rotasi jenis ini? Kenapa harus diukur? Kenapa harus diverifikasi?" tanya Pak Hayun. Jadi, memang mengingat bahwa ada perbedaan aktivitas atau bahkan perbedaan toksisitas dari bahan baku yang memiliki isomer optis. Contohnya ada suatu senyawa yang isomer yang satu memiliki aktivitas anestesi, sementara yang satunya lagi sebagai stimulan SSP. Jadi, sama struktur senyawa, beda bentuk isomer optisnya, beda aktivitasnya.

Jika memperoleh isomer yang tidak sesuai, dipastikan bahwa bahan baku tersebut bukan bahan baku yang diinginkan. Atau bisa jadi, rotasi jenis yang diperoleh menyimpang dari yang dipersyaratkan. Apa yang terjadi? Ketidakmurnian, terjadi akibat bercampurnya isomer atau senyawa lain yang kadarnya lebih rendah. Telah disebutkan sebelumnya bahwa rotasi jenis didasarkan atas rotasi optik dan konsentrasi. 

Konsentrasi larutan uji harus dibuat saksama. Dalam monografi disebutkan, berapa syarat rotasi jenisnya, juga ada keterangan hal lain yang harus dikontrol yaitu seperti dengan pelarut apa dalam penetapannya, pada konsentrasi berapa, apakah dihitung pada zat yang telah dikeringkan atau tidak, dan seterusnya. 

Apabila suatu bahan baku memiliki susut pengeringan yang besar, akan sangat berbeda hasilnya terhadap zat yang telah dikeringkan dengan yang tidak dikeringkan. Jadi harus diperhatikan, rotasi jenisnya diukur terhadap zat yang telah dikeringkan atau tidak, Umumnya kalau susut pengeringannya besar, maka jelas berpengaruh, dan harus dikeringkan.

Pengukuran harus dilakukan sebanyak 5 kali dan diukur tidak boleh lebih dari 30 menit dari penyiapan. Kenapa demikian? Untuk menghindari terjadinya mutarotasi, atau berotasi ke arah kebalikannya. Setiap senyawa akan berbeda terhadap cepat/lambatnya dalam bermutarotasi. 

Kalau pada uji cemaran umum, digunakan untuk menghitung cemaran dengan baku relatif. Cemaran umum, bakunya sudah seperti itu semua untuk semua bahan uji. Sementara pada uji cemaran senyawa sejenis, baku pembandingnya juga ada cemaran itu sendiri. Uraian dari senyawa sejenisnya apa sudah dicantumkan pada masing-masing monografi. Kalau uji cemaran umum biasanya dijelaskan pada bagian lampiran, tidak langsung pada monografi. 

Pada uji cemaran sejenis, umumnya jenis cemran itu sudah diketahui. Jadi, kembali lagi diingatkan diperlukan baku senyawa cemaran itu sendiri. Untuk menentukan apakah kandungan senyawa sejenisnya melebihi batas cemarannya tau tidak. Jika cemaran senyawa sejenis ada lebih dari 1, pada umumnya hanya ditentukan 1 atau 2 senyawa sejenis saja yang diukur persentase cemarannya, dipilih berdasarkan senyawa yang paling berpengaruh terhadap bahan bakunya (seperti kadarnya yang besar atau toksisitasnya yang besar) serta kalau semua cemaran sejenis diuji, akan memerlukan biaya yang mahal. 

Demikian yang dapat saya sampaikan. Mohon maaf apabila terdapat kesalahan. Terkait dengan segala prosedur yang dituliskan di atas, sebaiknya dirujuk kembali secara langsung kepada kompendial yang digunakannya seperti pada Farmakope Indonesia, BP, USP, dan seterusnya. Jangan merujuk pada tulisan ini. Jadikan  catatan ini sebagai gambaran saja, untuk meningkatkan pemahaman.

Terima kasih untuk kelompok ketiga yang telah mempresentasikan tugas ketiga ini dengan baik, yaitu terima kasih kepada Fitria, Erisa, Tami, Bernita, dan Hani. Mohon maaf apabila terdapat kesalahan. Semoga bermanfaat dan terima kasih sudah berkunjung :D

3 comments:

  1. boleh tanya, ini sumbernya darimana ya? karena saya sangat butuh materi ini, hehe. dari FI IV, bukan? atau dari sumber lain? terima kasih banyak. btw saya juga berterima kasih atas adanya materi ini di blog Anda karena sangat membantu saya:)

    bisa email ke salsabilarnyh@gmail.com untuk jawaban sumbernya hehe, terima kasih sekali lagi:D

    ReplyDelete
  2. permisi kakk... boleh tau gak ini dapatnya darimana? apakah ada list daftar pustakanya?

    ReplyDelete
  3. Halo Salsabila dan unknown, segala materi yang disebutkan merujuk kepada kompendial seperti pada Farmakope Indonesia, BP, USP, dan seterusnya. Untuk lebih tepatnya, baiknya kamu cek langsung yaa. Semangat teruus :)

    ReplyDelete

If you want to be notified that I've answered your comment, please leave your email address. Your comment will be moderated, it will appear after being approved. Thanks.
(Jika Anda ingin diberitahu bahwa saya telah menjawab komentar Anda, tolong berikan alamat email Anda. Komentar anda akan dimoderasi, akan muncul setelah disetujui. Terima kasih.)