Wednesday, October 7, 2015

Senyum Tulus Bersama Khalisa Lip Care

"Nuri, bagaimana perkembangan penelitiannya?" Tetiba Dosen pembimbing menghampiri dan saya tidak punya waktu untuk kabur. Saya tersenyum tipis terkesan dipaksa.

"Hmm... Baik... Pak." Jawab saya singkat. 

*Hening sesaat*

Saya malas bicara tetapi perlu bertanya, "Bagaimana cara menguapkan ekstrak yang dengan pelarut aquadest Pak?" Lagi dengan senyum tipis.

Sikap beliau yang awalnya "cerah" berubah "asem" membalas sikap saya dan hanya memberikan jawaban singkat dan terkesan tidak niat menjawab, "Freeze dry."

"Oke baik, terima kasih Pak." saya berlalu pergi begitu saja.

Tampak sombong, tidak sopan, dan menyebalkan sekali sikap saya. 

"Kenapa kamu bersikap yang sebenarnya bukan itu maksud kamu? Bodoh. Tidak benar seperti itu sikapnya! Jika tidak bisa tersenyum dengan tulus, lebih baik tidak usah senyum sama sekali! Senyum tipis tidak sama dengan senyum tulus. Tidak boleh tersenyum tipis kepada dosen. Kepada dosen harus serba tulus agar dimudahkan selama penelitian," saya bergumam dalam hati, "AAAAAAA, sepertinya beliau kesal.... jika begini... bagaimana nasib skripsi saya??? Paaaak, mohon maafkan sayaaaa. Bukan maksud saya bersikap begituuu..."

Kabur memang sepertinya solusi yang paling tepat untuk menghindari komunikasi saat itu, namun saya sudah terlanjur mematung dan dosen telah menyapa. Bukan saya tidak suka dengan dosennya, tetapi hari itu bukan waktu yang tepat bagi saya untuk berkomunikasi. Bisa jadi, sudah banyak orang yang tersakiti karena salah paham dengan sikap saya. 

Hari itu bibir saya amat kering dan pecah-pecah. Setiap kali puasa, senyum lebar tanda tulus saya membuat kondisi bibir parah dan beberapa kali berdarah. Nyeriiiii rasanya.

Iyaa, berdarah. Pendarahan bisa terjadi saat bibir kering dan pecah-pecah, karena tiap kali tersenyum, ada 12-17 otot yang bekerja (Gamble, 2014; Sceve, n.d.). Saat bibir kering dan pecah-pecah, sesungguhnya sel kulit telah mati dan kehilangan elastisitasnya. Sel kulit yang mati tidak mampu melindungi pembuluh darah, lalu akibat adanya tarikan dari pergerakan otot menyebabkan pada akhirnya pembuluh darah terluka sehingga bibir tampak berdarah. Atas dasar itulah saya memutuskan untuk hemat senyum setiap kali bibir kering dan pecah-pecah.

Namun tampaknya, saya tidak bisa terus begini. Saya butuh solusi lain yang lebih baik daripada menghindar. Menghindari orang lain memberikan kesan yang buruk. Saya harus tetap bisa tersenyum dengan tulus meskipun bibir kering dan pecah-pecah. Betapa tersenyum dengan tulus itu amat berharga bagi saya. Saya ingin orang lain ramah dan hangat terhadap saya, sebagaimana saya ingin diperlakukan, sehingga saya pun harus ramah dan hangat kepada orang lain. Melalui senyuman yang tulus, saya dapat memberikan kesan ramah dan hangat.

"Smiles and the world will smile with you" -Stanley Gordon.

Kini, saya menemukan solusinya. Khalisa Lip Balm dapat melembabkan dan mewarnai senyum tulus saya dan siapapun yang menggunakannya. Tidak hanya mengatasi bibir kering dan pecah-pecah tetapi juga dapat membuat saya percaya diri tersenyum dengan tulus. Saya memilih untuk membeli Khalisa Lip Care Peach Caramel. Dengan lima keunggulan utamanya yaitu halal, melembabkan, SPF 25, mengandung vitamin E, dan berwarna salem natural.


Pada kemasannya tertulis, "Kelembutan dan kehalalan formula Khalisa kini hadir untukmu! Khalisa Peach Caramel dengan kandungan utama Beeswax, Shea Butter, dan Olive Oil yang bekerja secara sinergis menjaga kelembaban bibir agar senantiasa lembut, halus dan cantik. Diperkaya dengan vitamin E yang dikenal sebagai antioksidan alami serta SPF 25 untuk melindungi warna alami bibir dari pengaruh buruk sinar UV. Dengan warna salem yang natural dan aroma Caramel manis yang membuatmu tersenyum."

Setelah saya membaca komposisinya dan mencari informasi lebih lanjut, saya menjadi lebih yakin dengan kebenaran terkait apa yang diklaim pada kemasannya yang telah saya sebutkan di atas.


Khalisa Lip Care Peach Caramel mengandung bahan-bahan yang berfungsi sebagai emolien, pembentuk ketebalan dan konsistensi, surfaktan, penyerap dan penyaring UV, pewangi, pewarna,  dan antioksidan.

Keunggulan pertama Khalisa Lip Care Peach Caramel adalah halal. Mengenai hal ini, kita dapat membuktikan kehalalan produknya dengan mengakes website MUI dan menuliskan nama produknya. Apabila suatu produk telah teregistrasi halal, maka akan muncul pada daftar produk halal-nya. Sebagaimana produk Khalisa Lip Care Peach Caramel benar teregistrasi halal.

(klik untuk memperbesar)

Keunggulan kedua Khalisa Lip Care Peach Caramel adalah melembutkan. Hal ini karena, terdapat bahan-bahan yang berfungsi sebagai emolien (Anwar, 2012). Bahan-bahan itu antara lain Octydodecanol, Isopropyl Palmitate, Petrolatum, dan Diisostearyl Malate. Oleh karena terdiri lebih dari satu bahan yang berfungsi sama, maka bahan-bahan ini dapat bekerja sinergis dan lebih baik dalam memberikan kelembutan dan kelembaban pada bibir.

Keunggulan ketiga Khalisa Lip Care Peach Caramel adalah SPF 25. SPF merupakan singkatan dari Sun Protection Factor atau faktor perlindungan sinar matahari (Alexandra, 2014). Angka 25 menunjukkan ukuran lamanya waktu seseorang dapat bertahan di bawah sinar matahari tanpa khawatir kulitnya ter"bakar" (Alexandra, 2014). Khalisa Lip Care Peach dengan SPF 25, jelas hal ini menjadi keunggulan, karena tidak semua produk kosmetik disertai dengan SPF. Ethylhexylmethocycinamate dan Ethylhexylsalicylate merupakan bahan-bahan dalam produk ini yang berfungsi sebagai penyerap dan penyaring sinar UV sehingga kedua bahan inilah yang berkontribusi terhadap SPF.

Keunggulan keempat, yaitu mengandung vitamin E. Vitamin E merupakan antioksidan yang artinya dapat menangkal radikal bebas penyebab berbagai macam penyakit (Orabi & Abdelhamid, 2014). Tocopherylacetate inilah vitamin E yang dimaksud.

Keunggulan kelima, yaitu berwarna salem natural. Bahan-bahan yang berfungsi sebagai pewarna dalam produk ini antara lain Titanium Dioxide, Cl 77491, Cl 45380, dan Cl 47005. Titanium Dioxide ini merupakan salah satu pewarna yang memberikan warna natural dan secara luas dikenal tidak toksik dan bersifat inert (tidak mudah bereaksi) (Alexandra, 2014). Di samping itu, Titanium dioxide juga berkontribusi dalam memberikan halangan terhadap radiasi sinar UVA (Alexandra, 2014).

Selain bahan-bahan yang telah disebutkan di atas. Khalisa Lip Care Peach Caramel juga mengandung bahan-bahan tambahan lain yang mendukung, yaitu bahan-bahan yang berfungsi sebagai pembentuk ketebalan dan konsistensi sehingga berperan dalam memberikan bentuk lip balm yang kokoh dan tidak mudah patah. Bahan-bahan tersebut terdiri dari Polybutene, Ozokerite, Butyrospermum Parkii Butter, Polyethylene, dan Hexadecene Copolimer.

Terdapat pula bahan yang berfungsi sebagai surfaktan. Surfaktan merupakan bahan yang dapat menyatukan bahan-bahan yang bersifat larut minyak dengan bahan-bahan yang bersifat larut air (Anwar, 2012). Contoh bahan larut minyak yang terkandung adalah Petrolatum, sementara contoh bahan larut air adalah Titanium Dioxide. Sebagaimana minyak dan air tidak bisa bersatu. Oleh karena itulah dibutuhkan surfaktan. Bahan-bahan yang berperan sebagai surfaktan dalam produk ini antara lain Cera Alba dan Diisostearyl Malate (bahan ini berperan ganda, selain sebagai emolien).

Keterangan mengenai fungsi dari suatu bahan-bahan yang ada pada produk ini saya akses dari EWG's Skin Deep Cosmetics Database.

Dengan demikian, saya semakin yakin dengan keunggulan dari Khalisa Lip Care Peach Caramel ini.

Satu lagi, mengenai keamanan. Setiap produk yang ternotifikasi di BPOM, sudah dijamin keamanannya (Menteri Kesehatan RI, 2010). Khalisa Lip Care Peach Caramel ini telah ternotifikasi di BPOM, sehingga dengan mudah dapat dilihat pada kemasan, ada nomor registrasinya. Meskipun ada nomor registrasinya, mungkin masih ada yang ragu apakah benar-benar produk tersebut ternotifikasi BPOM atau berlaku tidak benar dengan mencantumkan nomor registrasi asal. Terkait dengan hal ini, bisa diperiksa nomor registrasinya langsung di website BPOM. Setelah dimasukkan nomor registrasinya, jika memang benar, nama produknya akan muncul pada daftar. Seperti Khalisa Lip Care Peach Caramel yang benar ternotifikasi oleh BPOM.

(klik untuk memperbesar)

Khalisa Lip Care Peach Caramel, benar-benar terjangkau bagi saya yang masih mahasiswa. Kebetulan  saat itu sedang diskon, saya bisa memperolehnya dengan harga 17 ribuan rupiah.

Selesai dengan keingintahuan ini. Langsung saya mencoba. Benar, persoalan utama bibir saya yang kering dan pecah-pecah teratasi dengan Khalisa Lip Care.

(klik untuk memperbesar)

Ada empat varian Khalisa Lip Care, Peach Caramel salah satunya. Saya memilih Peach Caramel, selain karena kantong mahasiswa ini yang tidak mampu beli semuanya, saya cenderung membeli Khalisa Lip Care Peach Caramel, karena warnanya yang mirip dengan warna kulit. Sekedar info saja, tiga varian Khalisa Lip Care lainnya antara lain Pure Vanilla Honey, Red Cherry Peppermint, dan Pink Buble Gum.

Kesimpulannya, hari-hari saya menjadi lebih ceria dan menyenangkan, karena Khalisa Lip Care melembabkan dan mewarnai senyum tulus saya. Saya pun tidak ragu dengan keunggulan, keamanan, dan keterjangkauannya. Terima kasih Khalisa Lip Care :D

Sumber Referensi:

Alexandra. (2014). Essential guide to SPFs and UV Protection. [website] diakses pada 2 Oktober 2015, pukul 22:15.

BPOM. (n.d.). Database Registrasi Badan Pengawas Obat dan Makanan. [website] diakses pada 2 Oktober 2015, pukul 22:20.

EWG's Skindeep Cosmetics Database. (n.d.). [website] diakses pada 2 Oktober 2015, pukul 22:17.

Gamble, Z. (2014). Give us a smile! Are using more or fewer muscles than it takes to frown? [website] diakses pada 2 Oktober 2015 pukul 21:58.

Menteri Kesehatan RI. (2010). Peraturan Menteri Kesehatan RI nomor 1176/MENKES/PER/VIII/2010 tentang Notifikasi Kosmetik.

MUI. (n.d.). [website] diakses pada 2 Oktober 2015, pukul 22:30.

Orabi, S. A., Abdelhamid, M. T. (2014). Protective role of alfa-tocopherol on two Vicia faba cultivars against seawater-induced lipid peroxidation by enhancing capacity of anti-oxidative system. Journal of the Saudi Society of Agricultural Sciences. In press, corrected proof.

Scheve, T. (n.d). How many muscles does it to take smile. [website] diakses pada 2 Oktober 2015, pukul 22:00.

Tranggono, R. I., Latifah, F. (2007). Buku Pegangan Ilmu Pengetahuan Kosmetik. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Posted on by Nurul Fajry Maulida | 4 comments

4 comments:

  1. thanks sist for the great review, wanna try :D

    ReplyDelete
  2. Menarik untuk dibaca dan dipahami. Percakapannya juga membuat postingan ini terasa ilmiah populer. Semangat terus menulisnya!

    ReplyDelete
  3. Waah! Boleh dicoba nih. Makasi ya Nuri reviewnyaa :-D

    ReplyDelete
  4. You're welcome Mia :D
    Terima kasih Ghivo, semangat terus juga ya Ghivo menulisnyaaa!
    Sama-sama Silviaaa <3

    ReplyDelete

If you want to be notified that I've answered your comment, please leave your email address. Your comment will be moderated, it will appear after being approved. Thanks.
(Jika Anda ingin diberitahu bahwa saya telah menjawab komentar Anda, tolong berikan alamat email Anda. Komentar anda akan dimoderasi, akan muncul setelah disetujui. Terima kasih.)