Saturday, March 5, 2016

Catatan PKPA Industri #7

Minggu akhir bulan Februari adalah minggu terakhir kami di industri farmasi tersebut. Minggu-minggu tersebut kami isi dengan penyusunan report untuk perusahaan hingga 2 hari terakhir sudah selesai direvisi, sudah final, dan sudah ditandatangani oleh analis (mba Lasti), manager QC, dan manager QA. Saya harap tidak ada kesalahan yang kami buat sehingga tidak ada orang lain yang kami repotkan jika ternyata ditemukan kesalahan dan harus mengulang kembali analisisnya. 

Sementara laporan PKPA yang untuk diberikan ke kampus baru kami mulai kerjakan di sisa-sisa hari kami di sana. Laporannya belum bisa benar-benar selesai sehingga di waktu yang lain kami akan berencana untuk kembali lagi dan menemui pembimbing untuk membahas laporannya. 

PKPA di industri farmasi ini bukan hanya memperoleh pengalaman praktik/bekerja secara langsung saja di industri farmasi, tetapi kami belajar untuk bekerja bersama dengan tiap personil yang ada di industri farmasi tersebut. Meskipun beban kerjanya cukup tinggi, setiap personil bekerja begitu keras, namun di sela-sela mengerjakan pekerjaannya, ada saja lawakan-lawakan yang beberapa personil lontarkan sehingga tiap personil yang bekerja menjadi tidak bosan. 

Terkadang pula, ketika kami merasa sedih akibat hasil analisis yang tidak kunjung diperoleh atau karena penyusunan pelaporan yang masih saja tidak sesuai, kami menjadi lupa begitu saja dengan semua kesedihan itu tiap kali dikelilingi oleh personil-personil yang penuh candaan. Kami menjadi ceria kembali dan bersemangat untuk menyelesaikannya. 

Semua analis, supervisor, dan manager sudah kami anggap keluarga sendiri. Makan siang bersama, berbagi makanan, minum susu bersama, kerja malam bersama, dan seterusnya. Di akhir hari kami di sana, kami menyempatkan untuk berfoto bersama sebagai kenang-kenangan. Teman saya begitu emosional saat itu hingga menangis. Sementara saya ceria-ceria saya. Salah seorang analis bertanya kepada saya, "Nur, lo kok ga nangis?" Ahahaha, saya hanya senyum-senyum saja, tidak tahu harus menjawab apa. Karena saya percaya, ini bukan akhir dari pertemuan, ini hanyalah awal untuk bertemu kembali di kemudian hari, karena mereka sudah saya anggap keluarga, maka keluarga tidak pernah meninggalkan anggota keluarganya. 

Ucapan terima kasih sepertinya tidak cukup untuk membalas kebaikan mba Lasti tiap kali membimbing kami mengerjakan project kami. Semoga mba Lasti memperoleh kebaikan lain yang tak terduga. Terima kasih juga untuk ibu manager QC sebagai pembimbing I kami yang dengan sabar dan mau meluangkan waktu padatnya untuk berdiskusi bersama kami. Terima kasih untuk mba Elis, mba Ponita yang selalu mengajarkan kami kedisiplinan, kerapihan, dan kepatuhan. Terima kasih untuk semua analis departemen QC yang selalu menebarkan keceriaan, yaitu kepada mas Bambang, mas Wasis, mba Rika, Teteh, mba Anna, mba Sinta, mas Fadil, mas Dani, mba Siska, mas Diki, mas Rizki, dan anak-anak PKL (Mamat, Ica, Alfi, dan Rasyad). Terima kasih untuk semua kenangannya. Sampai berjumpa di waktu yang lain.

2 comments:

  1. semangat di tempat baru yang sekarang ya ka :)
    suka sama qoutesnya:
    karena keluarga tak akan pernah meninggalkan anggota keluarganya :3

    ReplyDelete
  2. aaaaah iya miiii, semangat juga untukmu di tempat kerjamu! Itu Nuri terinspirasi dari animasi Lilo & Stitch ahahaha.

    ReplyDelete

If you want to be notified that I've answered your comment, please leave your email address. Your comment will be moderated, it will appear after being approved. Thanks.
(Jika Anda ingin diberitahu bahwa saya telah menjawab komentar Anda, tolong berikan alamat email Anda. Komentar anda akan dimoderasi, akan muncul setelah disetujui. Terima kasih.)