Wednesday, July 21, 2021

Pengalaman Menjadi Pasien COVID19 Gejala Sedang (Isolasi Mandiri)


Saat itu saya sedang banyak-banyaknya pekerjaan, saya kerjakan sampai larut malam, bahkan ketika hujan sedang lebat-lebatnya, angin menabrak tak karuan, mengenai dengan keras jendela kamar saya, hingga atap kamar saya pun bocor. Karpet putih dan kasur habis basah kuyup. Gemericiknya sedikit mengenai laptop yang saya letakkan di atas meja. Buru-buru saya angkut ke ruangan lain dan mengelap tetesannya. Setelah menyingkirkan barang-barang lainnya, saya terus melanjutkan pekerjaan. 

Di hari-hari berikutnya pun masih sama, kerjaan menumpuk. Perut kembung dan suara gruk-gruknya saya abaikan akibat terlalu fokusnya bekerja, tiga hari berlalu, kondisi makin tidak fit, dahi terasa hangat, tapi saya hajar saja dengan paracetamol, ditambah asupan probiotik 5 buah. Saya terus bekerja dan mengabaikan kesehatan saya tersebut, hingga di hari esoknya, saya jatuh sakit, lemah sekali. 

Kakak dan asisten di rumah mengantar ke rumah sakit. Hari itu, minggu malam sekitar pukul 8 malam, hanya IGD yang buka. Betapa kagetnya, isinya penuh dengan pasien COVID19. Pendaftar baru disatukan di satu ruangan. Antara ingin cari rumah sakit lain, tapi nampaknya kondisi akan tetap sama, saya beranikan diri melanjutkan pemeriksaan dengan dokter. Berhubung antrian cukup lama, intinya saya didiagnosis tipes berdasarkan hasil laboratorium dengan hasil tes Widal 1/160. Saya pulang sekitar tengah malam.

Setelahnya saya konsumsi obat-obatan selama seminggu, yang tadinya diare, perut kembung, kurang nafsu makan, sudah tidak terasa lagi. Badan serasa baikan. Namun hari berikutnya, entah kenapa saya kurang nafsu makan, demam dan sakit kepala parah sekali, dan diare lagi. Hari sebelumnya, asisten saya di rumah yang pulang pergi (bukan yang mengantar saya ke rumah sakit), diberitahukan oleh Pak RT, positif COVID19). Tentu saya kaget, karena terakhir kontak hari sebelumnya, dan pada saat kontak hanya sekedar mengobrol, asisten di dekat pintu, saya terbaring di kasur sambil menutup hidup dengan selimut. Jujur, sejak terkena tipes pun saya sudah memutuskan untuk isolasi mandiri, karena tipes juga menular, dan di rumah ada orang tua yang sudah lanjut usia.

Awalnya saya pikir, hanya gejala-gejala biasa yang muncul karena tipes saya, dan berhubung tipes memang harus total istirahat minimal 2 minggu. Namun, gejala lain muncul, saya mulai tidak bisa mencium bau, anosmia, biasanya parfum saya itu wangi sekali, tetapi saat itu, saya benar-benar tidak bisa mencium baunya. Saya pergi ke klinik sendiri, memeriksakan status pengobatan tipes saya yang alhamdulillah turun hasil tes widalnya menjadi 1/80, namun setelah tes swab antigen, saya dinyatakan positif COVID19. 

Panik, saya langsung infokan ke keluarga dan meminta semuanya untuk menghindari ruang tamu, ruang keluarga, dan tangga, berhubung area tersebutlah area di mana saya akan lewati selepas dari klinik. Ketika semua sudah aman, saya pulang. Melanjutkan isolasi mandiri. Alhamdulillah saya sudah isolasi mandiri sejak terkena tipes, sehingga ketika mungkin sebelum tes sudah ada virusnya, saya tidak menularkan ke keluarga. Tentunya saya paling khawatir jika orang tua terkena. 

Pelajaran yang bisa diambil: Isolasi mandirilah segera mungkin apabila sakit, dengan gejala apa pun, meskipun belum tentu COVID19, tidak ada salahnya. Dengan melakukan isolasi mandiri secepat mungkin, kamu sudah melindungi orang lain dari potensi terkena COVID19 karena tertular olehmu. Jangan menunggu tes swab dulu baru isolasi. 

Akan disayangkan jika kamu sakit, lalu kamu menyepelekan dan menganggap enteng bahwa mungkin hanya demam biasa, atau pilek biasa, siapa yang tau gejalanya akan berkembang ke anosmia, batuk-batuk, lalu kamu baru periksa dan ternyata tes swab antigen hasilnya positif, lalu kamu menyesal karena terlanjur belum isolasi mandiri, sehingga beberapa hari yang lalu kamu telah kontak dengan orang-orang terdekat dan akhirnya di hari berikutnya orang-orang tersebut merasakan gejala yang sama dan juga positif tertular oleh kamu. Ini sering terjadi. Seandainya memang misalnya demammu itu ternyata bukan COVID19, tidak juga ada salahnya kamu isolasi mandiri. Misalnya 2 hari sembuh, ya setelah itu kamu akhiri. 

Alhamdulillah sampai habis masa saya isolasi mandiri dan makin membaik, dari semua kepala yang ada di rumah, tidak ada yang tertular atas upaya saya untuk melakukan isolasi mandiri dengan ketat. 

Seperti apakah isolasi mandiri yang ketat itu? Ya seketat itu dimana kamu usahakan tidak kontak sama sekali dengan orang lain. Kamu harus berada di kamar yang terkunci. Akan lebih baik jika dilengkapi dengan kamar mandi. jika kamar mandi adanya di luar atau menyatu penggunaannya dengan anggota keluarga lainnya, selalu pastikan sebelum kamu ke kamar mandi, tidak ada seorang pun di area perjalanan kamu ke kamar mandi. Hubungi mereka, kirim pesan. 

Sebelum ke kamar mandi, pastikan kamu gunakan dobel masker (masker medis dan masker kain). Kamu harus desinfektan pakaianmu (saya selalu sedia desinfektan berupa alkohol 70%, saya beli alkohol 96% 1 dirigen (5 L) dan saya racik sendiri hingga menjadi 70%, caranya bulatkan saja menjadi 7 bagian alkohol 3 bagian air) , upayakan tidak ada virus-virus yang melekat di tubuhmu. Lalu selama perjalanan ke kamar mandi, semprot-semprotkan alkohol tersebut, sebagai upaya supaya tidak ada virus yang kamu bawa menyebar ke ruangan. 

Selesai dari kamar mandi, sebelum ke luar, semprot semua yang kamu sentuh, toiletnya, embernya, gayungnya, botol sabunnya, dan lainnya. Lalu kembali desinfektan pakaianmu sebelum keluar. Semprot-semprotkan kembali sepanjang area perjalananmu kembali ke kamar. Infokan ke keluargamu di rumah, jika kamu sudah di kamar lagi, dan beritahukan kira-kira 15 menit lagi mereka boleh kembali beraktivitas di area kamu melintas untuk memastikan virus-virus yang kamu bawa selama kamu melintas sudah menghilang bersama desinfektan. 

Pelajaran yang bisa diambil: selalu stok masker medis dan masker kain, serta alkohol 70%. Pastikan jumlahnya banyak setidaknya cukup untuk 14 hari isolasi mandiri. Saya sendiri stok 1 box isi 50 masker medis dan 1 dirigen alkohol. Murah kok ada banyak dijual di toko online.

Setiap barang yang digunakan selama isolasi mandiri, seperti pakaian, piring, gelas, masker, juga jangan sampai kontak dengan orang lain. Artinya jika ingin mencuci baju, jangan berikan pakaian kotor ke orang lain begitu saja, begitu pula piring dan gelas kotor. Apalagi masker kotor, jangan dibuang sembarangan. Justru masker dipastikan paling banyak kandungan virusnya, jika dibuang begitu saja bisa membahayakan orang yang memungutnya. 

Sediakan sabun cuci piring di kamar mandi, cuci piring sendiri, setelahnya sterilkan dengan alkoholnya, baiknya simpan sendiri piringnya di kamar jika ingin sangat ketat pencegahannya, jangan berikan kepada keluarga, nanti saja kalau sudah selesai isolasi mandirinya. Jika persediaan piring, gelas, sendok tidak banyak, bisa sarankan keluarga berikan makanannya menggunakan kertas nasi atau wadah lainnya yang bisa langsung dibuang. 

Pakaian kotor rendam dulu dalam air sabun beberapa hari baru silakan berikan ke asisten atau yang bertugas mencuci baju. Begitu pun dengan masker, rendam dulu beberapa hari dengan air sabun baru buang ke tempat sampah. 

Setiap saya akan memberikan barang, misalnya sampah yang sudah di kantong sampah agar dibuangkan ke tempat sampah, selalu saya semprot-semprotkan dahulu dengan alkohol 70% untuk menghindari adanya virus yang melekat.  

Gejala yang saya rasakan termasuk kategori sedang, yaitu demam, hidung tersumbat, agak gatal di tenggorokan, diare, perut kembung, tidak nafsu makan dan anosmia. Ditambah tubuh semakin lemas karena tipes yang masih belum sembuh total. Ikuti saja saran dokter dan konsumsi obat-obatan yang tujuannya untuk menurunkan gejala. Memang belum ada antivirus yang benar-benar ditujukan untuk COVID19, namun berdasarkan tatalaksana dari pemerintah waktu itu dan dari resep yang diberikan oleh dokter, saya diminta untuk mengkonsumsi Oseltamivir. Sayangnya antivirus itu habis di mana-mana. Saya terkena saat Jakarta sedang puncak-puncaknya gelombang kedua. Rumah sakit penuh, oksigen langka, antivirus juga habis di mana-mana.

Kala itu kakak saya berusaha mencari ke setiap apotek, tetapi jawabannya tetap kosong. Ada sekitar 5 hari saya berjuang tanpa antivirus. Hanya mengandalkan obat penurun gejala dan vitamin. Untuk demam dan sakit kepalanya saya diresepkan paracetamol diminum sehari 3 kali setelah makan (waktu kerja obat hanya 6-8 jam, jadi tidak boleh putus minum obatnya selama gejala masih terasa), untuk hidung mampat/pilek flucadex sehari 3 kali setelah makan, untuk tenggorokan gatal yang ada lendirnya tapi ga bisa keluar diberi ambroksol HCl sehari 3 kali sebelum makan. Untuk gangguan saluran cernanya diberi berlosid tablet kunyah, yang harus dikunyah dulu sebelum ditelan, diminum sebelum makan 3 kali sehari dan lansoprazole sehari 3 kali sebelum makan. 

Terkadang saya mual sehingga sebelum makan mengkonsumsi metoklorpropamid/domperidon/ondansentron, saat itu saya diresepkan yang metoklorpropamid. Oh iya untuk obat-obatan penurun gejala tersebut dikonsumsi sampai gejalanya sudah hilang, jadi ketika obat belum habis boleh dihentikan. Kecuali jika diresepkan antibiotik atau antivirus, harus dihabiskan meskipun rasanya sudah baikan badannya.

Multivitamin yang diberi Theragran-M saya bersyukur diresepkan ini karena satu pil ini kandungannya komplit ada Vitamin A 10000 IU, Vitamin B1 10 mg, Vitamin B2 10 mg, Vitamin B6 5 mg, Vitamin B12 5 mcg, Vitamin C 200 mg, Vitamin D 400 IU, Vitamin E 15 IU. Pilnya tidak pahit, saya merasakan pilnya tersalut bahan coklat, rasa ingin dikunyah, tapi saya tidak mendapatkan informasi bahwa ini pil yang dikunyah, jadi saya langsung telan saja. 

Saya tingkatkan juga imunitas dengan Stimuno, saya pilih stimuno dibanding produk-produk lainnya, karena pertama stimuno tersedia dalam bentuk sirup sehingga cocok untuk saya yang tidak terlalu suka menelan obat dan salah satu produk yang sudah memiliki standar hingga fitofarmaka. Fitofarmarka adalah tingkatan di mana produk tersebut sudah melewati pengujian praklinis dan uji klinis terhadap manusia sehingga terjamin efektivitasnya terhadap manusia. Sementara produk farmasi yang hanya dalam tingkat obat tradisitional terstandar atau masih jamu saja belum sampai pengujian klinis.

Selain itu berhubung nafsu makan berkurang, saya asup nutrisinya dari susu, saya pilih Ultramilk berbagai rasa supaya tidak bosan. Ada rasa strawberry, karamel, moka, taro, dan coklat. Untuk kebutuhan cairan dan mineralnya saya minum Pocari sweat agar mirip kandungannya dengan cairan infus. 

Pelajaran yang bisa diambil: ke dokter segera dan dapatkan obat-obatan untuk menurunkan gejala. Apabila ada obat-obatan yang tidak tersedia di klinik tersebut hubungi apotek Kimia Farma untuk mengetahui ketersediaannya. Insya Allah apotek Kimia Farma ini karena milik pemerintah, akan ada terus stoknya. Tetapi ada di apotek mana yang tersedia, bisa kunjungi website ini. Sayangnya sewaktu saya sakit, saat itu memang sedang parahnya kondisi di mana-mana sehingga saya kehabisan.

Akhirnya selama 5 hari sejak gejala awal muncul saya bertahan hanya dengan obat penurun gejala dan vitamin. Alhamdulillah tanpa antivirus bisa membaik. Saya teringat dengan salah satu video acak yang dibagikan kakak saya, yang mengatakan bahwa kunci dari melawan infeksi COVID19 adalah PMP, yaitu Pikiran yang Positif, Makan yang bernutrisi dan banyak, serta Pernapasan yang baik. 

Tentu saya stress selama terkena, tetapi bisa didistraksi dengan menyibukkan diri dengan hal-hal yang lain seperti menonton drama Korea, menonton komedi, mengobrol dengan teman melalui video call atau aktivitas lainnya yang disukai. Jangan merasa sendiri. 

Awalnya saya tidak nafsu makan. Tapi pernah satu hari saya hanya makan sedikit dan hanya 1 kali dalam sehari saking tidak nafsunya. Akibatnya badan saya benar-benar gelisah dan tidak kuat sama sekali. Lemah, langsung saya paksa makan saat itu dan alhamdulillah hilang gelisahnya dan tidak terlalu lemas lagi. 

Makanan yang cocok berhubung saluran cerna sedang ada gangguan adalah nasi lembek dengan kuah sayur bening, hindari yang dimasak dengan minyak berlebihan, jadi saya konsumsi misalnya seperti telur rebus, sop ayam. Hindari pula masakan yang pedas. Perbanyak protein untuk bahan baku pengganti sel-sel yang rusak. 

Terkait dengan pernapasan, jika rasanya suhu panas, nyalakan AC atau kipas angin. Karena pada saat suhu sedang panas-panasnya, ruangan jadi pengap, kurang oksigen. Jadi dengan menggerakkan sirkulasi udara dengan AC atau kipas angin, kebutuhan oksigen jadi terpenuhi. Kemudian ada saat-saat ketika saturasi saya turun dari 95% (saturasi oksigen yang baik adalah di atas 95%, cara mengukurnya dengan oksimeter), dan saya pun merasa agak sedikit tidak teratur napasnya. Dengan mengikuti teknik proning persis sesuai dengan yang ada di gambar, yaitu menggunakan 3 bantal dan diletakkan sesuai gambar, Alhamdulillah pernapasan saya membaik. Saturasi meningkat lagi. 




Pelajaran yang bisa diambil: Pastikan ada AC/kipas angin supaya tidak pengap dan meningkatkan kebutuhan oksigen di udara, selalu sedia oksimeter/oxymeter, bisa dibeli online, murah harganya 200 ribuan. Cara memastikan oksimeter tersebut asli atau palsu bisa masukan pensil, apabila pensil terdeteksi artinya itu palsu, karena harusnya hanya jari saja yang dapat dideteksi. Lakukan teknik proning jika ada gangguan pernapasan.

Untuk gejala sedang, bisa melakukan isolasi mandiri selama 13-14 hari, lalu bisa berkumpul kembali dengan lainnya. Jika ingin mengkonfirmasi sudah negatif atau belum. Saya sarankan melakukan swab antigen saja. Kecuali jika gejalanya berat maka diperlukan swab PCR. Saat itu saya khawatir melakukan swab antigen di klinik atau tempat-tempat lain, jelas pasti di antara pasien-pasien tersebut yang datang ada yang positif, jadi saya takut terkena untuk yang kedua kalinya. Jadi saya memutuskan membeli sendiri alat kit tes swab antigennya. Banyak yang jual di toko online, cara penggunaannya juga mudah, sudah banyak yang mencontohkan di youtube. 

Pelajaran yang paling bermakna dari semuanya adalah untuk menjaga badan tetap fit dan sehat. Karena dari pengalaman saya di atas, hanya saya yang terkena COVID19 ketika sebetulnya anggota keluarga lainnya (termasuk orang tua yang masuk hitungan lanjut usia (ibu 60an, bapak 70an) potensial terkena karena papasan dengan asisten yang positif di rumah. Hanya saya yang terkena, karena saat itu hanya saya yang sedang turun imunnya karena sedang proses penyembuhan dari tipes. Jadi kesimpulan dari saya, COVID19 akan menginfeksi siapa saja yang turun imunnya, yang sedang lemah, yang sedang kecapekan. Tetapi untuk mereka yang imunnya kuat, sedang fit badannya, menjaga prokes, insya Allah akan terlindungi. Jadi, Alhamdulillah di keluarga, semuanya negatif kecuali saya, dan ini juga berkat isolasi mandiri yang ketat, jika longgar sedikit, saya yakin, yang lain jika fit tetapi terpapar terus dengan saya bisa juga terkena. 

Pelajaran yang bisa diambil: pastikan badan selalu sehat dan fit, dengan konsumsi makanan yang bernutrisi, jangan telat makan, dukung dengan vitamin dan penguat imun untuk pencegahan. Olahraga teratur. Hentikan pekerjaan jika sudah lelah, jangan diforsir. Jika kerja diforsis, kelelahan, jatuh sakit, ketika sakit itulah imun menjadi turun sehingga rentan terkena COVID19. 

Jika berkesempatan untuk vaksinasi, segeralah vaksinasi. Karena dengan vaksinasi, bisa menurunkan potensi terkena, dan jika pun terkena lagi insya Allah hanya akan gejala ringan/sedang saja, sehingga dengan vaksinasi bisa menghindari gejala berat. Saya tau masih banyak yang bimbang terkait vaksin. Nantinya saya akan menuliskan opini saya terkait vaksin di postingan lainnya. 

Demikian yang bisa saya bagikan terkait pengalaman saya menjadi pasien COVID19 dengan gejala sedang. Semoga pembaca di sini baik yang sedang berjuang semoga segera dipercepat kesembuhannya, maupun yang sekedar mencari informasi, semoga terpenuhi keingintahuannya. Tulisan saya bisa jadi salah, jadi saya mohon maaf jika ada kesalahan. Terima kasih sudah berkunjung! Sehat selalu!

1 comment:

  1. Terima kasih ya udah berbagi pengalamannya, sangat berarti buat sayah. Kakakmu baik banget ya udah perhatiin kamu. Semoga cepat sembuh ya!

    ReplyDelete

If you want to be notified that I've answered your comment, please leave your email address. Your comment will be moderated, it will appear after being approved. Thanks.
(Jika Anda ingin diberitahu bahwa saya telah menjawab komentar Anda, tolong berikan alamat email Anda. Komentar anda akan dimoderasi, akan muncul setelah disetujui. Terima kasih.)