Sunday, August 27, 2023

Nyobain Sate-Satean di Pho Ba Ba, Boleh Juga

Pertama kali ke Pho Ba Ba, restoran masakan Vietnam, yang ada di Margocity Depok, disuguhi dengan berbagai macam variasi sayuran. Selain sayuran, ada banyak side dish yang bisa dipilih. Aku pilih yang sate-satean gitu, yang ayam, sama yang gorengan kayak risol gitu. Risolnya isi daging ayam dan sayuran gitu deh kalo ga salah. 

Ukurannya lumayan besar, puas sih


Untuk segi rasa oke banget, enak sih sate-sateannya, dari 1 sampai 5, aku kasih 4,8. 

Selain itu, minumannya juga pilih sendiri. Aku pilih yang mirip kayak cendol. Cuma, hmmm, gimana ya, sepertinya masih enakan cendol hehehe. Cendol lebih manis. Minuman yang ini aku ga tau namanya apa, asal ambil aja, dikasih serutan es, terus ada kayak santan gitu juga dan gulanya. Tapi, lagi-lagi kubilang, masih enakan cendol. 

ini minumannya yang kumaksud


Interior restorannya oke juga, ada banyak pernak-pernik ke-Vietnam-an. Seru sih, bagus buat foto-foto. Cara pesannya mirip kayak di Marugame, jadi ambil pake nampan, ambil sendiri yang bisa diambil, atau pesan langsung, lalu antri bayar. 

sqlah satu sudut interiornya yang menarik


tampak lokasi pemesanan


Aku cuma beli sate-satean karena ga terlalu lapar pada saat itu. Selanjutnya, sepertinya aku perlu coba menu yang roti/sandwich-nya atau mi-nya deh. Oke lah, lain waktu ke sana lagi. 

Oiya dari segi harga, lumayan pricy ya, sate-satean dan minuman aja total di atas 60 ribuan. Jadi perlu ready sekitar 100-200 ribuan lah ya kalo mau makan kenyang di sini. Kalau cuma icip-icip aja, ya 50 ribuan cukup. 

Steak Moen Moen Sang Legend di Depok Town Square

Steak Moen Moen, makanan legend, favorit dulu sewaktu kuliah. Yang aku makan ini ada di Depok Town Square (Detos), lokasinya dekat sekali dengan kampus UI dulu, sehingga jadi salah satu favorit para mahasiswa. Bukan cuma rasanya yang enak aja, tentu harganya cocok banget sama kantong mahasiswa. 

Bukti ke-legend-annya adalah masih terus berjualan dan terus rame meski melewati masa COVID-19 dimana outlet-outlet lain yang membersamainya dulu satu per satu tumbang. Kini mall Detos juga nampak suram karena beberapa sisi benar-benar tidak ada tenant

Harganya tuh ga sampe 20 ribuan ya, untuk yang 1 porsi. Kecuali beli yang porsi dobel, harganya dobel pula. Untuk yang laper banget aku saranin versi yang dobel/jumbonya, supaya kenyang. 

Steak Moen Moen ini, berupa ayam boneless yang dibalur dengan tepung lalu digoreng dengan kriuk. Rasanya pas banget, ga keras, lembut lagi dagingnya. Kemudian disiram dengan saos steak-nya. 

Di dalam saosnya, ada potongan sayurannya juga, seperti wortel, buncis, dan jagung


Penyajiannya juga dengan plat teflon gitu sehingga menjaga kehangatannya, bahkan masih panas banget yak. Jangan coba-coba pegang platnya deh.

Dari 1 sampai 5, aku kasih 4,9 karena ini worth it to try banget sih, dan nagih. Menang di rasa dan harga, kurasa itu kuncinya mereka tetap hidup di kala yang lainnya mati. Semangat terus Steak Moen Moen! Semoga dapat terus berjaya... (wkwk maap lebay) 

Film Barbie: Lagi-Lagi Ada Unsur Politisnya

sumber foto dari google

Setelah Little Mermaid, kini film Barbie pun dimasukkan unsur politis. Bercerita tentang kesetaraan gender, bahwa wanita pun juga memiliki hak untuk berkarir di bidang apa pun. Aku mengerti pentingnya hal tersebut, tetapi lagi-lagi janganlah menunggangi ekspektasi penonton, yaitu aku, yang menunggu-nunggu untuk melihat keceriaan film Barbie. 

Film Barbie semestinya menjadi suatu hidangan yang ditunggu-tunggu sebagaimana masa kecil kami selalu bersinggungan tiap hari dengan Barbie. Kami memainkan Barbie berperan dalam menjalani hidup sehari-hari, sesederhana tidur, bangun, bermain, berinteraksi dan seterusnya. 

Aku berekspektasi, film Barbie dibuat dengan memvisualisasikan hal-hal tersebut, yang tidak perlu disangkut-pautkan dengan pesan-pesan yang mungkin titipan dari organisasi tertentu. 

Sudahlah, aku sudah muak bagaimana Little Mermaid yang sebelumnya juga dibuat dengan dimasukkan unsur politis, yang seharusnya cukup sederhana saja seperti sebagaimana cerita awalnya dibuat, jangan dimodifikasi. 

Jika memang ingin menyampaikan pesan kesetaraan gender kan bisa dengan film lain. Jangan lagi-lagi menodai Barbie itu sendiri, yang khas ceritanya tidak serumit itu. Cukup berikan cerita yang menarik, yang indah, yang dapat diterima secara universal. Sudah itu saja.

Meskipun demikian, terlepas dari kritikku di atas. Aku cukup menikmatinya, karena perlu diakui, film Barbie ini dibuat dengan effort yang maksimal. Bisa dilihat bagaimana rumah Barbie dibuat, serta bangunan-bangunan lainnya. Serasa kembali ke dunia masa kecil yang menyenangkan tanpa beban. Kabarnya, cat warna pink di dunia hampir langka gara-gara produksi film Barbie ini. 


Selain itu, yang aku suka dari film Barbie ini ada visual pemain-pemainnya, yang cantik-cantik dan tampan. Aku tidak masalah dengan adegan-adegan bernyanyi dan seterusnya. Karena di situ aku menikmatinya. Berbeda mungkin seleraku dengan temanku yang lain. Ketika aku bertanya pendapat temanku yang cowok yang menonton lebih dahulu, ia merasa bosan karena terlalu banyak adegan bernyanyinya.

Meskipun Barbie adalah mainan masa kecil, bukan berarti anak-anak kecil boleh menonton film Barbie ini, karena dinilai 13+, artinya hanya usia remaja ke atas yang boleh. Mungkin karena ada beberapa adegan yang belum pantas dilihat anak-anak. 

Overall, aku kasih rating dari 1 sampai 10, sekitar 8 ya. Masih recommended untuk ditonton. Apalagi yang dulunya suka main Barbie.